Hubungan Pemberian MPASI dengan Status Gizi Balita Usia 12-24 bulan di Puskesmas Gamping 2

Authors

  • Azzahra Nursalekhah Program Studi Gizi Program Sarjana Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Khoirun Nisa Alfitri Program Studi Gizi Program Sarjana Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Ririn Wahyu Hidayati Program Studi Gizi Program Sarjana Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Keywords:

MPASI, Status Gizi, Balita

Abstract

Beberapa faktor dapat memengaruhi status gizi balita; salah satunya adalah penggunaan MPASI yang tidak sesuai dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita, Di antara puskesmas di Kabupaten Sleman, Puskesmas Gamping 2 memiliki jumlah balita yang kurang dari berat badan dengan 12,8%. Studi ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara status gizi balita berusia 12–24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Gamping 2. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pemberian MPASI dan variabel terikat pada penelitian ini adalah status gizi. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Metode sampling pada penelitian ini menggunakan consecutive sampling dengan kriteria inklusi yakni ibu yang mengasuh balita berusia 12 hingga 24 bulan harus memberikan MPASI kepada balitanya, bersedia menjadi responden, dan memiliki kemampuan membaca dan menulis. Selain itu, balita yang memiliki penyakit jangka panjang seperti asma, diabetes melitus tipe 1, kelainan jantung, cerebral palsy, atau infeksi yang terjadi lebih dari dua minggu (ISPA, diare, flu, DBD, dan cacar air) tidak termasuk dalam sampel yang dikumpulkan, yang berjumlah 45 responden. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemberian MPASI dan status gizi balita yang berusia antara 12 dan 24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Gamping 2, saran dalam penelitian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam menyusun menu MPASI yang tepat untuk balita.

References

World Health Organization. Complementary feeding of young children in developing countries: a review of current scientific knowledge. Geneva: WHO; 2003.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2023. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.

Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia 2024. Jakarta: BPS; 2024.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat; 2022.

Rahmatiah M. Hubungan tekstur makanan pendamping ASI dengan status gizi balita. Jurnal Gizi dan Kesehatan. 2023;15(2):123–130.

DOI: 10.20473/jgk.v15i2.2023.123-130

Punuh MI, Malonda NSH, Bolang ASL. Hubungan variasi pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 6–24 bulan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2018;7(3):45–52.

DOI: 10.20473/jkm.v7i3.2018.45-52

Rahayu C. Waktu, frekuensi, dan porsi MP-ASI terhadap status gizi balita. Jurnal Ilmu Gizi Indonesia. 2023;6(1):34–42.

DOI: 10.35842/jigi.v6i1.2023.34-42

Dewey KG, Brown KH. Update on technical issues concerning complementary feeding of young children in developing countries. Food Nutr Bull. 2003;24(1):5–28.

DOI: 10.1177/156482650302400102

Lestari W, Margawati A, Rahfiludin MZ. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia. 2014;10(2):77–83.

DOI: 10.14710/mkmi.10.2.77-83

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Profil Kesehatan Kabupaten Sleman Tahun 2023. Sleman: Dinkes Sleman; 2023.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Kinerja Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.

World Health Organization. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child. Geneva: WHO; 2003.

Gibson RS, Ferguson EL. An interactive 24-hour recall for assessing the adequacy of iron and zinc intakes in developing countries. HarvestPlus Technical Monograph. 2008;8:1–68.

UNICEF. Improving young children’s diets during the complementary feeding period. New York: UNICEF; 2020.

Black RE, Victora CG, Walker SP, et al. Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries. Lancet. 2013;382(9890):427–451.

doi:10.1016/S0140-6736(13)60937-X

Brown KH, Dewey KG, Allen LH. Complementary feeding of young children in developing countries. Geneva: WHO; 1998.

Deshinta RE, Sari DK, Puspitasari N. Hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 12–24 bulan berdasarkan BB/U. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2023;18(2):89–97.

Mirania AN, Louis SL. Hubungan tekstur dan frekuensi MP-ASI dengan status gizi anak usia 6–24 bulan. Jurnal Gizi Indonesia. 2021;9(2):112–120.

doi:10.14710/jgi.9.2.112-120

Astuti EP, Ayuningtyas IF. Hubungan tekstur MP-ASI dengan kejadian picky eater pada balita. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan. 2018;6(1):45–52.

Widdyawati, Handayani D, Rahayu S. Frekuensi pemberian MP-ASI dan risiko gizi kurus pada balita. Jurnal Kesehatan Anak. 2016;10(2):67–74.

Rahayu C. Hubungan jumlah porsi MP-ASI dengan status gizi balita usia 6–24 bulan. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia. 2023;11(1):22–30.

Susanti TK, Lestari W, Handayani R. Hubungan porsi dan frekuensi MP-ASI dengan status gizi balita. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. 2023;19(1):55–63.

doi:10.22146/ijcn.78945

Affifah I. Alergi makanan dan dampaknya terhadap status gizi balita. Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak. 2025;14(1):10–18.

Downloads

Published

2026-02-15